|
Pasar Tradisional, Riwayatmu Kini |
|
|
|
|
Friday, 30 April 2010 |
|
Oleh: H. Karyadi Mintaroem
Tahukah Saudara tentang pasar tradisional? Pernahkah Saudara berbelanja di pasar tradisional? Tahukah Saudara tentang Hypermart, Carrefour, dan Giant? Pernahkah Saudara berbelanja di tempat-tempat tersebut? Kesan pertama setiap orang ketika mendengar pasar tradisional rata-rata selalu berpikir sempit,gelap,panas,kumuh,jorok, pengap, bau, dan becek. Kesan jorok inilah yang selalu terpikirkan dalam benak hampir setiap orang. Berbeda ketika mereka mendengar Hypermart, Carrefour, Alfa, atau Giant, hampir setiap orang akan berpikir dan berpendapat kebalikan dari pendapat dan pikiran mereka akan pasar tradisional.Mereka akan berpikir tempat tersebut luas, bersih, terang, nyaman, dan sebagainya sehingga mereka lebih suka berbondong-bondong berbelanja di tempat-tempat tersebut dibandingkan di pasar tradisional.
|
|
|
Tuesday, 27 April 2010 |
|
Lintah, binatang yang menghisap darah dan kerap membawa korban binatang lainnya, sekarang tampaknya sedang asyik menghisap darah republik ini.Belum tuntas lintah Century dilepaskan dari kulit republik,lintah kasus yang mengusung Bibit-Chandra ikut menghisap. Setelah itu, berturut-turut lintah menghisap melalui makelar kasus, lintah kerusuhan di Priok, dan lintah kekacauan di Batam. Entah, seusai ini lintah apalagi yang akan menghisap “darah politik dan sosial” republik. Akibatnya, darah republik menjadi kering sehingga tidak ada tenaga untuk memikirkan dan menyelesaikan masalah ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan yang lain.
|
|
|
ACFTA, Perlindungan UMKM dan Implementasi Bisnis Syariah |
|
|
|
|
Thursday, 22 April 2010 |
|
Realitas ACFTA Tepat 1 Januari 2010, Indonesia secara resmi masuk dalam pelaksanaan kesepakatan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA). Banyak kalangan dalam negeri khawatir dengan diberlakukannya ACFTA ini karena melihat perekonomian Indonesia, baik dalam tataran makro dan mikro tak sebanding dengan dominasi ekonomi China. Kekhawatiran tersebut memang cukup beralasan. Data statistik Kementerian Perdagangan RI, misalnya menunjukkan, walaupun jumlah total perdagangan RI dan China meningkat cukup drastis dari 8,7 miliar dollar AS pada 2004 menjadi 26,8 miliar dollar AS pada 2008, Indonesia yang biasanya mencatat surplus dalam perdagangan dengan China, belakangan ini mulai menunjukkan defisit. Tahun 2008, Indonesia mencatat defisit sebesar 3,6 miliar AS.
|
|
|
Tanpa Pajak, Negara Ambruk? |
|
|
|
|
Tuesday, 13 April 2010 |
|
Oleh Arim Nasim Makelar kasus yang melibatkan salah seorang pegawai Ditjen Pajak, Gayus Tambunan, menyulut gerakan boikot pajak terutama di dunia maya, dan ini dikhawatirkan bakal mengancam penerimaan negara dari pajak. Hal itu sebagaimana disampaikan Ketua Badan Anggaran DPR Harry Azhar Aziz, Jumat (26/3). Bahkan sebagian orang berpendapat bahwa pajak adalah darah kehidupan (life blood) negara. Pajak dibayar negara tegak; pajak diboikot negara ambruk. Benarkah tanpa pajak, negara akan ambruk? Bagaimana posisi pajak dalam sistem ekonomi Islam? Benarkah pajak mewujudkan keadilan? Berbagai upaya dilakukan oleh Dirjen Pajak untuk meningkatkan pendapatan negara dari pajak baik melalui penyadaran penting pajak dalam pembangunan maupun melalui iklan di media yang terkenal dengan semboyannya "Apa Kata Dunia?" Hasilnya memang luar biasa, pendapatan negara dari pajak semakin meningkat dari tahun ke tahun, misalnya pada 1989 sumber pendapatan negara dari pajak masih sekitar 51 persen tetapi pada 2006 pendapatan negara dari pajak meningkat menjadi 75 persen, sisanya dari pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan pinjaman.
|
|
|